Bentuk – Bentuk Inquiry

Bentuk - Bentuk Inquiry

Bentuk – Bentuk Inquiry

Bentuk - Bentuk Inquiry
Bentuk – Bentuk Inquiry

Beberapa macam model pembelajaran

Inkuiri sebagaimana yang dikemukakan oleh Sund dan Trowbridge di antaranya adalah sebagai berikut.

a.    Guided Inquiry (inkuiri terbimbing)

Metode guided inquiry merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya dari hasil mengingat fakta-fakta, melainkan juga dari menemukan sendiri (Sagala, 2010: 89). Dalam prosesnya, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima materi pelajaran dari guru, melainkan mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran tersebut (Sanjaya, 2010: 197). Proses pembelajaran inkuiri meliputi lima langkah yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan.

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa.

Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan, sehingga siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai tinggi tidak memonopoli kegiatan. Oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan mengelola kelas yang bagus. Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswasiswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri (Hamruni, 2007: 144).

b.    Modified Inquiry (inkuiri termodifikasi)

Metode modified free inquiry merupakan salah satu jenis dari metode inkuiri. Menurut Brown, peran guru yang minim dalam pembelajaran dengan metode modified free inquiry mengakibatkan siswa cenderung mudah frustasi dan gagal (Opara, J. A., & Oguzor, N. S, 2011: 188-189) sehingga dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang dapat menutupi kelemahan dari metode inkuiri bebas termodifikasi. Pembelajaran dengan peer tutoring merupakan metode pembelajaran yang menggunakan siswa sebaya untuk menjadi tutor guna membantu siswa lain yang kesulitan belajar.

Siswa yang mempunyai kemampuan yang tinggi dipasangkan dengan siswa yang mempunyai kemampuan rendah. Sehingga pembelajaran peer tutoring mampu meminimalisir kegagalan dan rasa frustasi siswa jika menggunakan metode modified free inquiry. Selain itu peer tutoringmampu mempercepat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial sehingga komunikasi verbal dapat berjalan dengan baik (Djamarah dan Aswan, 2010: 24).

Model ini memiliki ciri yaitu guru hanya memberikan permasalahan tersebut melalui pengamatan, percobaan, atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. Di samping itu, guru merupakan nara sumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah (Hamruni, 2007: 145).

c.    Free Inquiry (inkuiri bebas)

Siswa dalam model free inquiry ini diberikan kebebasan dalam menyelesaikan masalah, melakukan percobaan, menganalisis data, serta membuat kesimpulan. Kebebasan dalam menentukan masalah memancing siswa untuk melakukan kegiatan berpikir untuk dapat menemukan masalah yang akan diujicobakan sehingga menimbulkan suatu ide yang bermacam-macam. Siswa juga akan menuangkan keberagaman ide yang unik saat melakukan analisis data dan membahas permasalahan yang dibuat. Harapan dengan digunakannya model free inquiry ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam multirepresentasi fisika yang juga akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Modified Free Inquiry merupakan salah satu model dari pembelajaran inquiry yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa dibawa ke dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang jelas untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis model inkuiri ini lebih bebas daripada kedua jenis inkuiri sebelumnya (Hamruni, 2007: 146).

Inquiry Role Approach (inkuiri pendekatan peranan)

Menurut Amin (1979: 25), inquiry role approach merupakan kegiatan proses belajar melibatkan mahasiswa dalam team-team yang masing-masing terdiri dari empat anggota untuk memecahkan invitation to inquiryInquiry role approach juga hampir sama dengan Cooperative Learning, akan tetapi pada Cooperative Learning belum ada pembagian tugas tertentu masih menggunakan kepemimpinan bersama sedangkan inquiry role approach memiliki pembagian tugas yang jelas dan terdapat satu pemimpin yang mengatur jalannya pembelajaran dalam kelompok. Masing-masing anggota team diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda.

Anggota team menggambarkan peranan-peranan tertentu, bekerjasama memecahkan problem-problem yang berkaitan dengan topik yang sedang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus dilaksanakan secara berkelompok. Setiap orang dalam kelompok tersebut memiliki peranan masing-masing yaitu sebagai team coordinator, technical advisor, data recorder, dan process evaluator. Hal ini diperlukan oleh mahasiswa untuk dapat membiasakan teamwork dalam bekerja dan belajar sehingga dapat lebih memahami materi yang sedang dipelajari.

Invitation Into Inquiry

Model inkuiri jenis ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang ditempuh para ilmuan. Suatu undangan memberikan suatu problema kepada para siswa dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin semua kegiatan berikut : merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menentukan sebab akibat, menginterprestasikan data, membuat grafik, menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencakan penelitian, dan memahami bagaimana kesalahan ekperimental dapat dikurangi atau diperkecil (Hamruni, 2007: 147).

Pada metode pembelajaran invitation into inquiry, siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah menggunakan cara-cara yang lazim ditempuh para ilmuwan. Undangan (invitation) diberikan melalui pertanyaan/masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati. Guru mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut.

1)    Merumuskan hipotesis

Siswa mengumpulkan informasi, mengidentifikasi dari pertanyaan yang telah disampaikan oleh guru, dan dibantu dengan percobaan-percobaan untuk mendapatkan hipotesis awal dan hipotesis akhir siswa dengan pengetahuan pemahaman yang dimiliki siswa.

2)    Merancang eksperimen

Mengundang suatu permasalahan sehingga siswa dapat mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah, dengan menemukan alat dan bahan, menuliskan langkah kerja, menentukan apa yang diamati.

Menentukan sebab-akibat

Melakukan percobaan yang diberikan oleh guru untuk dapat menjelaskan sebab akibat yang terjadi pada percobaan tersebut sehingga siswa dapat mengerti apa yang disampaikan melalui percobaan tersebut sehingga siswa tersebut mengetahui sebab dan akibatnya. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/