Euthanasia …. Agama …. Kekuatan Visi

Euthanasia …. Agama …. Kekuatan Visi

Euthanasia …. Agama …. Kekuatan Visi

Euthanasia …. Agama …. Kekuatan Visi
Euthanasia …. Agama …. Kekuatan Visi

Hari ini aku ada diskusi dengan discussion groups di IALF Bali (sebenarnya kelompok diskusi ini hanya bertujuan untuk melatih academic speaking skill saja, akan tetapi karena topik dan perkembangan diskusi sangat menarik, maka jadilah saya tulis di blog JePITS). Topik diskusi adalah tentang apakah euthanasia harus dilegalkan ?.

Dalam diskusi tersebut, ada salah satu bahan diskusi yang berupa sebuah artikel mengenai kasus euthanasia di Amerika Serikat. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa ada seorang istri yang menderita penyakit akut tertentu yang menyebabkan kondisinya tidak memungkinkan untuk bergerak sama sekali, koma dan bahkan hidupnya hanyalah tergantung pada live support equipment (peralatan penunjang hidup) yang dipasang di seluruh tubuhnya. Jika peralatan tersebut dicabut, maka nyawanya akan segera melayang. Para dokter sudah memberikan vonis bahwa si pasien telah mengalami penyakit yang tak mungkin sembuh. Dengan keadaan faktual si istri dan vonis dari dokter, si suami mengajukan permohonan untuk melakukan euthanasia pada istrinya. Dia menyatakan bahwa istrinya pernah memohon untuk diakhiri hidupnya agar penderitaannya tidak berkepanjangan, namun si suami tidak memiliki satu saksipun yang dapat mendukung pernyataannya tersebut. Tentu saja orang tua si istri keberatan dengan permintaan si suami tersebut.

Tentu saja, seperti ghalibnya diskusi yang lain, diskusi yang kami lakukan tersebut ada pendapat yang setuju dan ada juga yang kontra. Bagi yang tidak setuju legalisasi euthanasia rata-rata melihat bahwa itu adalah sama saja dengan bunuh diri jika yang mengehendaki kematian adalah orang yang bersangkutan dan itu merupakan pembunuhan jika yang menghendaki kematian tersebut adalah orang lain (keluarga, suami, anak atau wali dari si pasien). Bagi yang setuju, mengajukan beberapa syarat dapat dilakukannya euthanasia seperti pendapat dari panel dokter, kondisi ekonomi keluarga yang harus merawat, dan hak pribadi untuk memilih mati atau tidak. Bagi mereka apalah gunanya hidup jika tidak dapat berbuat apa-apa, mereka beranggapan hidup semacam itu adalah seperti music box that couldn’t play music anymore.

Mungkin bagi teman-teman diskusi ini tidak cukup menarik, karena jawaban akhir – ketika tidak ditemukan kesamaan pandangan maka solusinya adalah diserahkan pada pribadi masing-masing. Namun saya mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat mencerahkan tentang arti dari suatu visi yang kuat, dan bagaimana ia mempengaruhi kita. Dalam diskusi itu tentu saja saya tidak sepakat dengan adanya legalisasi euthanasia. Jika ada salah satu anggota keluarga kita yang menderita sakit semacam contoh kasus di atas, apa yang akan kita lakukan jika kita sudah tidak memiliki uang lagi ?. Mungkin jawaban kita akan cenderung sama, yaitu melakukan apa saja yang mungkin bisa kita lakukan untuk mempertahankan kehidupan orang yang kita cintai tersebut. Mungkin kita akan menjual barang-barang pribadi kita, bekerja lebih keras dan lebih cerdas, pinjam uang pada teman dan kerabat, menjual rumah, meminta uang pada orang yang kita anggap cukup kaya dan dermawan (jika betul-betul kepepet) dan lain sebagainya.

Akan tetapi hal ini bukan lagi masalah personal, legalisasi adalah suatu bentuk kesepakatan komunitas yang dituangkan dalam aturan hukum. Hal tersebut akan mengikat semua orang termasuk kita. Jadi kira-kira pandangan mana yang hendak kita ambil sebagai dasar pijakan hukum tersebut ?. Moral dan etika yang bagaimana yang akan kita gunakan sebagai cara pandang dan pisau analisis dalam melihat dan membedah permasalahan ini ?. Apakah kita akan melegalkan euthanasia demi untuk ‘menolong’ anggota keluarga lain (misalkan anak-anaknya yang masih butuh biaya hidup dan pendidikan) yang ditinggalkan ?. dan bersikukuh bahwa adalah hak setiap orang untuk memutuskan apakah dia ingin meneruskan hidup ataukah tidak. Ataukah kita tidak setuju untuk melegalkan euthanasia ini, dengan berbagai alasan etis dan normatif.

Secara pribadi, saya mendasarkan diri pada ajaran agama Islam sebagai panduan hidup, termasuk juga dalam hal euthanasia ini. Dalam Islam melakukan bunuh diri adalah tindakan yang sangat buruk, bahkan tidak termaafkan oleh Allah SWT. Membunuh orang lain juga tidak pernah disebut ke dalam kelompok dosa kecil, jadi jelas bahwa Islam pada dasarnya menolak pandangan euthanasia ini. Bagi islam, hak untuk memberikan atau mencabut kehidupan adalah semata-mata milik Allah, sehebat apapun usaha kita untuk membunuh diri, apabila tidak dikehendaki oleh Allah maka tidak akan pernah terjadi.

Mengenai arahan agama, saya selalu berpandangan bahwa apa yang menjadi arahan dan panduan Allah SWT adalah yang terbaik buat manusia. Nah dari sinilah kemudian muncul pikiran yang mempertajam kesadaran saya akan kekuatan sebuah visi.

Saya membayangkan jika sesama kita men-set dalam pikiran kita bahwa hidup adalah sesuatu yang amat berharga, dan tidak ada seorangpun (termasuk dirinya sendiri) berhak untuk mengakhiri hidup itu dengan alasan apapun, mungkin akan membawa banyak perubahan berdasar kesadaran dalam hidup kita. Seperti halnya ketika Martin Luther King Jr. pernah bermimpi “I have a dream”. Mimpi di mana di dunia orang sudah tidak lagi dibeda-bedakan berdasarkan warna kulit dan kebangsaannya, bahwa semua manusia adalah sama kedudukannya dan bahwa setiap bangsa dapat hidup berdampingan dalam suasana pergaulan yang damai. Yang hebat dari semua itu adalah hal itu diimpikan di saat, orang kulit hitam dianggap serendah binatang, diperlakukan dengan sangat tidak adil di setiap sektor kehidupan umum dan lain sebagainya. Berlandaskan mimpi tersebut, orang rela mati dan memperjuangkan sekuat tenaga, menderita dan berdarah-darah untuk mewujudkannya.

Menurut saya visi mengenai “terciptanya kesadaran bahwa hidup sangat berharga” secara komunitas akan membuat seluruh fokus dan usaha manusia kita akan diarahkan ke arah tujuan akhir yang sama. Mungkin secara hukum akan dibuat berbagai undang-undang yang akan memberi hukuman kepada orang yang bunuh diri, dan membunuh orang lain dengan hukum yang berat, mungkin ini juga bisa dijadikan alasan mengapa suatu negara harus segera berlari dan menjalankan strategi untuk berubah menjadi welfare state (sehingga setiap warga yang sakit dapat memperoleh asuransi kesehatan sehingga tidak ada pasien yang ditolak oleh rumah sakit karena alasan tidak ada biaya), secara keluarga mungkin akan kita usahakan membentuk komunitas-komunitas berbagis keluarga yang erat dan saling tolong menolong, mungkin secara pribadi kita akan segera berhenti melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kesehatan kita sendiri seperti merokok dan bergadang yang tidak perlu asal tidak didekati penyakit. dan mungkin masih akan ada banyak lagi hal lain yang akan kita lakukan untuk menuju visi tersebut.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/kingdom-rises-apk/