Hipoglikemia Definisi, Gejala, Klasifikasi, Diagnosis, Faktor Risiko, Epidemiologi, dan Patofisiologinya

Hipoglikemia Definisi, Gejala, Klasifikasi, Diagnosis, Faktor Risiko, Epidemiologi, dan Patofisiologinya

Hipoglikemia Definisi, Gejala, Klasifikasi, Diagnosis, Faktor Risiko, Epidemiologi, dan PatofisiologinyaHipoglikemia Definisi, Gejala, Klasifikasi, Diagnosis, Faktor Risiko, Epidemiologi, dan Patofisiologinya

Definisi Hipoglikemia

Hipoglikemia secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah normal. Hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes mellitus yang dapat terjadi secara berulang dan dapat memperberat penyakit diabetes bahkan menyebabkan kematian (Cryer, 2003). Hipoglikemia diabetik (insulin reaction) terjadi karena peningkatan insulin dalam darah dan penurunan kadar glukosa darah yang diakibatkan oleh terapi insulin yang tidak adekuat (Tomky, 2005).

Hipoglikemia sering didefinisikan sesuai dengan gambaran klinisnya dan diklasifikasikan berdasarkan Triad Whipple, yaitu :

– Keluhan yang menunjukkan adanya kadar glukosa darah plasma yang rendah.

– Kadar glukosa darah yang rendah (< 3 mmol/L hipoglikemia pada diabetes).

– Hilangnya secara cepat keluhan sesudah kelainan biokimiawi dikoreksi.

Risiko hipoglikemia terjadi akibat ketidaksempurnaan terapi saat ini, dimana pemberian insulin masih belum sepenuhnya dapat menirukan (mimicking) pola sekresi insulin yang fisiologis (Sudoyo, et al. 2006). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada pasien diabetes tipe 1 dari pada tipe 2, namun dapat juga terjadi pada pasien diabetes tipe 2 yang mendapatkan terapi insulin, dan merupakan faktor penghambat utama dalam penanganan diabetes mellitus (Gabriely & Shamoon, 2004).

Faktor utama hipoglikemia yang menjadi fokus pengelolaan diabetes mellitus adalah ketergantungan jaringan saraf pada asupan glukosa secara terus menerus. Gangguan asupan glukosa yang berlangsung beberapa menit menyebabkan gangguan fungsi sistem saraf pusat, dengan gejala gangguan kognisi, bingung, dan koma (Sudoyo, et al. 2006).

► Gejala, Klasifikasi dan Diagnosis Hipoglikemia

Pada individu yang mengalami hipoglikemia, respon fisiologi terhadap penurunan glukosa darah tidak hanya membatasi makin parahnya perubahan metabolisme glukosa, tetapi juga menghasilkan keluhan dan gejala yang khas. Hipoglikemia dapat berkembang dari hipoglikemia ringan (asymptomatic hypoglycemia), sampai hipoglikemia sedang (moderate hypoglycemia) bahkan sampai pada hipoglikemia berat (severe hypoglycemia) (Sudoyo, et al., 2006).

Gejala yang timbul pada hipoglikemia ringan umumnya terjadi akibat aktivasi respon symptoadrenal yang dimanifestasikan dengan kadar glukosa plasma kurang dari 55 mg/dl, berkeringat banyak, tremor, pallor (pucat), palpitasi, nyeri kepala, dan takikardi (Boyle, & Zrebiec, 2007). Pada hipoglikemia sedang (moderate hypoglycemia), terjadi gejala neuroglicopenic, dimana kadar glukosa plasma kurang dari 45 mg/dl yang disebabkan oleh disfungsi cerebral (otak) akibat hilangnya suplai glukosa, dengan manifestasi klinik bingung, mengantuk, sulit bicara, inkoordinasi, perilaku yang menyimpang (tidak wajar), gangguan visual, dan parestesi.

Keadaan ini dapat berkembang ke dalam hipoglikemia berat yang ditandai dengan gangguan kesadaran, koma bahkan kematian (Cryer, et al, 2003). Gejala hipoglikemia berdasarkan klasifikasi hipoglikemia dijelaskan pada tabel di bawah ini.

Mild hipoglikemia
Moderate hipoglikemia
Severe hipoglikemia
– Diaphoresis
– Pallor
– Paresthesia
– Rasa lapar hebat
– Palpitasi
– Tremor
– Cemas
– Pusing
– Disorientasi
– Gangguan bicara
– Perubahan perilaku
– Irritabilitas
– Seizure
– Gangguan kesadaran
– Nafas dangkal
Sumber : Briscoe & Davis (2006)

Diagnosis hipoglikemia ditegakkan bila kadar glukosa darah di bawah 60-70 mg/dl dengan menunjukkan sedikit atau tidak menunjukkan gejala adrenergik maupun otonomik, serta jika kadar gula darah kurang dari 40 mg/dl yang menunjukkan gejala gangguan atau kerusakan persarafan / neuroglycopenic (Tomky, 2005).

Pasien diabetes yang masih relatif baru, keluhan dan gejala yang terkait dengan gangguan sistem syaraf otonomik seperti palpitasi, tremor atau berkeringat lebih menonjol dan biasanya mendahului keluhan dan gejala disfungsi serebral yang disebabkan neuroglykopenic seperti gangguan konsentrasi, parestesi, gangguan visual, gangguan bicara, inkoordinasi atau koma.

Perbedaan manifestasi atau gejala hipoglikemia baik neurogenic maupun neuroglykopenic terinci dalam tabel di bawah ini.

Gejala Neurogenic
Gejala Neuroglycopenic
– Gemetar
– Tremor / Trembling
– Gelisah
– Cemas
– Palpitasi
– Banyak keringat
– Mulut kering
– Lapar
– Pucat
– Pupil dilatasi
– Abnormal mentation
– Irritabilitas
– Bingung
– Gangguan berfikir
– Gangguan bicara
– Ataxia
– Parestesia
– Nyeri kepala
– Stupor
– Seizure
– Koma
– Meninggal (bila tidak ditangani)
Sumber : Briscoe & Davis (2006)

Pasien diabetes yang lama mengalami kecenderungan berkurangnya intensitas keluhan otonomik atau bahkan menghilang. Keadaan ini menunjukkan kegagalan yang progresif aktivasi sistem saraf otonomik (Sudoyo, et al., 2006). Diagnostik hipoglikemia ringan (mild hypoglycemia) sebagai tindakan deteksi dini dapat didefinisikan berdasarkan: (Miller, 2001)

– Laporan pasien tentang adanya gejala berupa:
Berkeringat, gemetar, lapar dan/atau pusing.

– Laporan hasil monitor glukosa darah yang dilakukan secara mandiri di rumah:
Kadar di bawah 60 mg/dl atau di bawah 3.3 mmol/L.

► Faktor Risiko Hipoglikemia

Hipoglikemia pada pasien diabetes terjadi akibat peningkatan kadar insulin yang kurang tepat, baik setelah penyuntikan insulin subkutan atau akibat terapi obat yang meningkatkan sekresi Insulin, misalnya sulfonilurea. Makan akan meningkatkan kadar glukosa darah dalam beberapa menit dan mencapai puncaknya setelah satu jam.

Bahkan pemberian insulin rapid acting secara subkutan belum mampu menirukan kecepatan peningkatan kadar puncak insulin tersebut dan baru menghasilkan puncak konsentrasi insulin 1-2 jam sesudah penyuntikan, sehingga pasien rentan terhadap hipoglikemia sekitar 2 jam sesudah makan sampai waktu makan berikutnya dan pada waktu malam hari (Sudoyo, et al., 2006).

Menurut penelitian yang dilakukan United Kingdom Prospective Study (UKPS) melaporkan bahwa hipoglikemia terjadi pada pasien DM tipe 2 yang menggunakan terapi metformin sebesar 2,4 %, sulfonylurea 3,3 %, dan insulin 11,2 % (Cryer, 2003). Terjadinya episode hipoglikemia umumnya merupakan reaksi terhadap insulin (insulin reaction) sehingga setiap pasien diabetes dengan terapi insulin dan obat hipoglikemia oral (OHO) harus diwaspadai timbulnya gejala hipoglikemia.

Menurut Sudoyo, et al., (2006), faktor risiko yang berkontribusi menimbulkan hipoglikemia adalah:

– Kadar insulin berlebihan, yang disebabkan oleh:
Dosis obat berlebihan
Peningkatan bioavailibilitas insulin, karena absorpsi yang lebih cepat dari normal.

– Peningkatan sensitivitas insulin, yang disebabkan oleh:
Defisiensi hormone counterregulatory : penyakit addison, hipopituarisme.
Penurunan berat badan.
Latihan jasmani, post partum, variasi siklus menstruasi.

– Asupan karbohidrat kurang, yang disebabkan oleh:
Makan tertunda atau porsi yang kurang.
Anorexia nervosa.
Muntah, gastroparesis.
Menyusui.

– Faktor lain, misalnya:
Absorpsi glukosa yang terlalu cepat untuk pemulihan glikogen otot.
Konsumsi alkohol
Konsumsi obat yang meningkatkan kerja sulfonilurea (misal, sulfonamid).

Identifikasi faktor penyebab atau faktor risiko hipoglikemia dan tindakan koreksi adalah rumit dan bersifat individual bagi pasien, namun biasanya mekanisme yang mendasari timbulnya gejala dapat ditemukan, misalnya asupan nutrisi yang tidak adekuat atau olah raga yang berlebihan sering menunjang terjadinya hipoglikemia, namun yang umum terjadi adalah respon apikal terhadap insulin.

► Epidemiologi Hipoglikemia

Prevalensi hipoglikemia cukup tinggi, kurang lebih 90 % pasien yang mendapatkan terapi insulin pernah mengalami hipoglikemia. Menurut Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) bahwa kejadian hipoglikemia berat pada pasien DM yang mendapatkan terapi intensif tiga kali lipat dari pada pasien DM yang mendapatkan terapi konvensional (Briscoe & Davis, 2006). DCCT merinci kejadian hipoglikemia pada diabetes tipe 1 sebesar 60 % dan 20 % pada pasien diabetes tipe 2 (Sudoyo, et al., 2006).

Episode hipoglikemia Pasien DM tipe 1 yang mendapatkan terapi intensif terjadi lebih dari 10 kali setiap minggu, dan mengalami episode hipoglikemia berat temporer paling sedikit sekali dalam setahun. Angka kematian pada pasien DM tipe 1 berkisar antara 2 % sampai 4 %. Kejadian episode hipoglikemia pada pasien DM 1 sebanyak 43 kali selama setahun dan 16 kali pada pasien DM 2, dan kejadian hipoglikemia berat pada pasien DM tipe 2 lebih rendah daripada pasien DM tipe 1 (Briscoe & Davis, 2006).

 

TERBARU