KARAKTERISTIK FILSAFAT HUKUM ISLAM YANG SISTEMATIS

KARAKTERISTIK FILSAFAT HUKUM ISLAM YANG SISTEMATIS

KARAKTERISTIK FILSAFAT HUKUM ISLAM YANG SISTEMATIS

KARAKTERISTIK FILSAFAT HUKUM ISLAM YANG SISTEMATIS

            Hukum islam ketika dilihat dari sudut pandang filsafat dalam tujuan mencapai hakikat mendalam dari hukum ini, tentu harus menggunakan metode filsafat, salah satu metode filsafat yaitu sistematis.

Sistematis adalah sustu metode yang digunakan dalam filsafat ketika hendak menemukan kedalaman hakikat sesuatu. Sistematis seperti yang dibahas sebelumnya berarti terstruktur, sesutu yang logis, metodis, infestigatif, dan analis. Sistematis dalam artian sesuatu yang rasional dan tidak keluar dari kerangka berpikir atau logika.

Yang dimaksud dengan hukum islam yang sistematis, hemat penulis berpendapat bahwa, adalah metode atau cara yang digunakan dalam berpikir atau berfilsafat untuk menemukan hakikat  mendalam, kebijaksanaan, dengan kata lain hikmah dibalik adanya hukum islam itu sendiri. Misalkan hukum islam yang berkenaan dengan  pencurian yang kemudian diberikan sanksi potong tangan, itu kemudian memberikan hikmah yaitu efek jera dari pelaku-pelaku pencuri lainnya. Berbeda dengan hukum positif yang khususnya digunakan dinegara Indonesia yang mayoritas penduduknya islam, itu kurang disiplin dalam memberikan sanksi. Penjara misalkan yang dianggap sebagai efek jera, justru membuat kejahatan semakin menjadi-jadi karena dalam penjara terdapat kenikmatan sendiri yang didapat oleh mereka yang melakukan kejahaatan atau pencurian. Dalam hukum islam juga terlihat keadilan berimbang yang labih ketimbang hukum positif.

Semua hukum yang ada dalam islam bersumber dari yang Maha Menciptakan huku itu sendiri, dan keseluruhannya terdapat hikmah dibalik dari hukum isalam, dan banyak hikmah yang terkandung didalamnya. Heukum islam menghendaki kehidupan yang sejahtera, aman, damai dan tenteram. Hukum islam tidak mengenal siapa pelaku kejahatan asalkan melakukan kejahatan tentu diberlakukan sanksi baginya. Sanksi dalam islam kerika dilihat dari kaca mata filsafat, bukan merupakan sanksi yang berat atau melanggar hak asasi manusia, misalkan. Karena dengan sanksi yang semacam itu, membuat mereka yang berniat melakukan kejahatan cenderung berpikir untuk melakukannya, atau mereka yang sudah melakukannya niscaya enggan untuk mendekati perbuatan itu lagi.

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPUALAN

Pembicaraan tentang filsafat hukum Islam, sebenarnya tidak didudukkan untuk saling menafikan atau membongkar dan membuat yang baru, melainkan semata-mata cerminan dan perhatian utama yang diberikan oleh masing-masing pemikir. Ada kalanya seseorang lebih suka berbicara tentang hukum sebagai bersumber dari Tuhan. Orang lain lebih suka berbicara tentang metode menggali hukum dari sumbernya. Sementara pemikir lain lebih suka berbicara tentang tujuan dan seterusnya. Kajian-kajian yang bervariasi dewasa ini semestinya digunakan sebagai cara mempertajam analisa dalam wacana hukum Islam.

Dengan kata lain teori hukum Islam sebenarnya telah ditulis lengkap dengan segala isinya, mulai dari sumber hukum, validitas sumber hukum, cara memperlakukan sumber hukum, cara mengatasi maslahah, metode penggalian hukum, tujuan hukum dan sebagainya, sehingga secara nyata telah di bahas dalam hukum Islam meliputi aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis yaitu hakekat hukum, sumber dan cara memperoleh hukum dan tujuan hukum. Ketika sebuah “negara Islam” misalnya, menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri itu jelas prosesnya mulai dari fakta tekstual berupa al Qur’an dan Sunnah sampai putusan hukum.

 

https://kaosfullprint.co.id/zombie-annihilator-apk/