Kekuatan Intuisi

Kekuatan Intuisi

Kekuatan Intuisi

Kekuatan Intuisi

Menurut Niels Bohr

seorang fisikawan, “Ada kebenaran sepele, ada kebenaran agung. Kebalikan dari kebenaran yang sepele adalah keliru. Kebalikan dari kebenaran yang agung adalah benar”. Demikian juga halnya dengan intuisi manusia. Ia memiliki kekuatan-kekuatan, juga bahaya-bahaya yang mengejutkan. Di satu sisi, sains kognitif saat ini telah berhasil mengungkapkan pikiran tak sadar yang mempesonakan—pikiran lain yang tersembunyi—yang tidak pernah dikatakan Freud kepada kita. Lebih dari pada yang kita sadari selama lebih dari satu dasawarsa lalu, proses berpikir terjadi bukan on stage, tetapi off stage, tidak tampak.


Dalam diri manusia terdapat beberapa gejala yang dapat dijelaskan, semisal “pemrosesan otomatis”, “pendasaran subliminal [subliminal priming]”, “memori implisit”, “heuristik”, “inferensi sifat bawaan spontan”, pemrosesan otak kanan, emosi-emosi sesaat, komunikasi non-verbal, dan kreativitas telah membuka selubung kapasitas-kapasitas intuitif kita. Berpikir, memori, dan sikap-sikap seluruhnya berjalan pada dua tingkatan (sadar dan sengaja, tak sadar dan otomatis). Pemrosesan ganda [dual processing], demikianlah para peneliti sekarang menyebutnya.


Impuls-impuls syaraf berjalan lebih lambat satu juta kali dibandingkan pesan-pesan internal computer, meskipun otak kita melebihi computer dengan pengenalannya yang sangat cepat. “Anda bisa membeli sebuah mesin catur yang bisa mengalahkan seorang master”, ungkap seorang peneliti visi Donald Hoffman, “tetapi Anda tidak bisa membeli  sebuah mesin visi yang sanggup mengalahkan visi seorang anak yang baru belajar berjalan”. Jika intuisi adalah pengenalan langsung, tanpa analisis ternalar, maka pencerapan adalah intuisi par excellence.


Dengan demikian, apakah intelegensia manusia lebih dari sekadar logika? Apakah berpikir lebih dari sekadar menata kata-kata? Apakah pemahaman lebih dari sekadar pengenalan yang sadar? Psikolog kognitif George Miller menjelaskan kebenaran ini dengan kisah mengenai dua orang penumpang yang bersandar pada jeruji kapal sambil memandang lautan. “Tentu saja ada banyak sekali air di lautan”, ujar salah seorang di antara mereka. ‘Ya’, temannya menjawab, ‘dan kita hanya melihat permukaannya saja”.


Persoalan yang dihadapi oleh manusia sangat kompleks. Tidak semua persoalan itu dapat diukur dengan penilaian secara matematik, dengan hitungan angka-angka atau parametrik. Albert Einstein, penemu bom atom pertama kali dalam dunia fisika, menyimpulkan dari hasil penelitiannya  bahwa, “Tidak semua hal yang bisa dihitung berjumlah, dan tidak semua hal berjumlah bisa dihitung.” Dari pernyataan Einstein ini tersirat adanya suatu kebenaran yang datangnya tidak dapat diprediksikan secara matematis, yaitu dengan hitungan secara pasti. Ini menunjukkan adanya alternatif sebuah sumber kebenaran yang dapat dilacak dari potensi-potensi yang ada dari kekuatan manusia sebagai anugerah Tuhan. Kekuatan ini lebih mengarah kepada bagaimana manusia mampu mengoptimalkan kekuatan potensial menjadi kekuatan aktual. Kekuatan aktual yang dapat diandalkan itu adalah intuisi.


Dalam Reith Lecture di BBC pada tahun 2000, Pangeran Charles mengangkat tema, Kearifan dari Hati. “Jauh di dalam lubuk hati kita masing-masing, berdiam sebuah kesadaran instingtif, kesadaran yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang menyediakan—jika kita mengizinkannya—bimbingan yang paling bisa diandalkan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “Apakah tindakan-tindakan kita (atau bukan tindakan-tindakan kita) telah benar-benar sesuai dengan kepentingan jangka panjang planet bumi yang kini sama-sama kita huni dan seluruh kehidupan yang menopangnya?”


Kearifan, empati dan kasih sayang tidak memiliki tempat di dunia empirik. Tetapi, kearifan-kearifan tradisional akan mendesakkan pertanyaan kepada kita, “Tanpa semua itu apakah kita benar-benar bisa menjadi manusia yang sesungguhnya?” Kita seharusnya, ujar sang raja masa depan itu, “lebih banyak mendengarkan akal sehat [common sense] yang memancar dari hati nurani kita”.


Dengan mengandalkan intuisinya [pandangan khas seorang pascamodernisNew Age] Pangeran Charles berhasil memiliki banyak perusahaan. Para sarjana, penulis populer dan para guru workshop dengan semangat terus melatih orang-orang untuk belajar mempercayai hati nurani mereka sekaligus mempercayai kepala [baca: otak] mereka.


Baca Juga :