Konsep Dasar Grand Strategi

Konsep Dasar Grand Strategi

Grand strategi berasal dari dua kata, yaitu grand dan strategi. Menurut kamus bahasa inggris, kata grand dapat diartikan  agung atau besar.[1] Sedangkan strategi adalah  pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.[2]

Dari pengertian diatas tentang grand dan strategi. Dapat disimpulkan bahwa, grand strategi adalah suatu pendekatan secara keseluruhan yang kaitannya dengan pelaksanaan gagasan atau ide, perencanaan, dan pengambil keputusan sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu secara besar-besaran dan keseluruhan.

1.1.   Pentingnya Grand Strategy dalam Penyelamatan Industri Dalam Negeri

Pemerintah harus membuat rancangan grand strategy ekonomi untuk menyelamatkan industri di Tanah Air. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan strategi besar itu dibutuhkan untuk mengatasi serbuan produk Cina yang mematikan industri dalam negeri. Ketua Umum Kadin, MS Hidayat, mengatakan untuk sanggup bersaing dengan serbuah produk buatan Cina, Indonesia dapat mengejar ketinggalannya dengan memfokuskan pada sektor unggulan tertentu. “Misalnya, karena kita sulit bersaing di sektor otomotif, kita bisa unggul di subsektor otomotif,” jelas Hidayat di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, ada lima sub sektor industri yang dapat menjadi keunggulan Indonesia. Yakni,

  1. Pertanian
  2. Perkebunan
  3. Perikanan
  4. Tekstil; dan
  5. Garmen.

Kelima sub sector industri diatas, dinilai Hidayat berpotensi mengembangkan kembali industri dalam negeri.

Kalangan pengusaha yang diwakili berbagai asosiasinya mengeluhkan adanya banjir produk-profuk Cina di sejumlah bidang. Produk-produk dari Negeri Tirai Bambu yang masuk pasar Indonesia itu, antara lain, tekstil, barang elektronik, mainan, makanan, minuman, alat tulis kantor, dan pakaian jadi.

            Wakil rakyat di Senayan pun mengungkapkan kekhawatirannya atas masuknya barang-barang dari Cina. Karena itu, mereka mengusulkan agar dibuat pagar-pagar yang melindungi produk dan industri dalam negeri agar tidak tenggelam dan kemudian bangkrut.

            Sejumlah paket yang dikeluarkan belakangan ini, seperti paket kebijakan infrastruktur dan paket perbaikan investasi, menurut mereka, masih belum cukup untuk membangkitkan industri dalam negeri. Lebih jauh Hidayat menjelaskan, setelah fokus kebijakan pemerintah ada, baru kemudian dibuat produk turunan kebijakan tersebut. Dengan begitu, kebijakan di bidang perpajakan, insentif, harmonisasi tarif, dan lainnya tidak bertabrakan. Indonesia, lanjut dia, tidak mungkin unggul di seluruh sektor industri. Untuk itu, diperlukan pemilahan sebagai bagian dari pemfokusan keunggulan apa yang hendak dikembangkan di dalam negeri. “Kadin siap berdiskusi dan memberi bukti sektor mana yang masih dapat diunggulkan,” tuturnya.

Sumber :

https://advertorial.co.id/meluncur-di-indonesia-ini-harga-xiaomi-mi-a1/