Learning Curve dalam Pembuatan Keputusan

Learning Curve dalam Pembuatan Keputusan

Sebuah contoh berikut ini akan menggambarkan bagaimana learning curve dapat membantu dalam pembuatan keputusan manajerial. Perusahaan VAJ mempunyai tawaran kontrak untuk 100 unit produk A. Produk A merupakan jenis produk baru bagi perusahaan, dan dalam percobaan pembuatannya, unit produk pertama ternyata memerlukan 75 jam tenaga kerja langsunh. Biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 5000,- setiap jam. Manager produksi perusahaan memperkirakan bahwa akan berlaku learning curve 80%. Biaya-biaya langsung lainnya Rp. 50.000,- per unit. Langganan menghendaki harga per unit sebesar Rp. 200.000,-. Manager perusahaan harus membuat keputusan apakah kontrak diterima atau tidak.

Pertama, perlu dihitung jam tenaga kerja langsung rata-rata per produk:

Log Y  = -0,322 log75 + log100

            = -0,322 (1,87506) + 2

            = 1,39623

Y         = 24,9017 jam tenaga kerja langsung.

Setelah itu, dapat dilakukan perhitungan biaya langsung per produk sebagai berikut:

Biaya tenaga kerja langsung   = 24, 9017 x Rp. 5000                        = Rp. 124.508,50

Biaya-biaya langsung lainnya                                                 = Rp. 50.000

Biaya langsung total per produk                                             = Rp. 174.508,50

Jadi perusahaan akan memperolah kontribusi laba sebesar: (Rp. 200.000 – Rp. 174.508,50) = Rp. 25.491,50 atau, kontribusi laba total sebesar (100 x Rp. 25.491,50) = Rp. 2.549.150. Atas dasar data ini manager sendiri yang dapat membuat keputusan, dengan memperhatikan factor-faktor lainnya yang relevan.

2.1.2 Berbagai Keterbatasan Penggunaan Learning Curve

            Di luar industri-industri pesawat terbang dan elektronik, learning curve jarang digunakan karena berbagai keterbatasan. Keterbatasan pertama adalah bahwa produk-produk biasanya tidak seluruhnya baru. Bahkan pesawat terbang baru tidak sepenuhnya berbeda dengan model-model sebelumnya. Begitu juga untuk industry baru, seperti televisi pada tahun 1950an, yang tergantung pada tabung-tabung dan sirkuit elektronik telah sangat dikenal oleh para pembuat radio. Hal ini menyulitkan kita untuk menetapkan titik awal bagi perhitungan learning curve.

            Keterbatasan lain adalah bahwa kurva-kurva hanya bersangkutan dengan tenaga kerja langsung. Dalam hal mesin-mesin sangat berpengaruh, suatu kurva 80% mungkin terlalu rendah, dan manajemen perlu menggunakan kurva 85 atau 90%. Masalahnya adalah pembuatan keputusan mana kurva yang digunakan, 80, 85, 90 atau lainnya?

baca juga :