Masalah struktural pertumbuhan industri Indonesia  

   Masalah struktural pertumbuhan industri Indonesia  

Laporan Bank Dunia (1993), yang berjudul Industrial Policy-Shifting into  High Gear, menemukan beberapa permasalahan struktural pada industri  Indonesia. Permasalahan struktural pada industri Indonesia adalah: (1) tingginya  tingkat konsentrasi dalam perekonomian dan banyaknya monopoli, baik yang  terselubung maupun terang-terangan pada pasar yang diproteksi; (2) dominasi  kelompok bisnis pemburu rente (rent-seeking) ternyata belum memanfaatkan  keunggulan mereka dalam skala produksi dan kekuatan finansial untuk bersaing  di pasar global; (3) lemahnya hubungan intra industri, sebagaimana ditunjukkan  oleh minimnya perusahaan yang bersifat spesialis yang mampu menghubungkan  klien bisnisnya yang berjumlah besar secara efisien; (4) struktur industri  Indonesia terbukti masih dangkal, dengan minimnya sektor industri menengah;  (5) masih kakunya BUMN sebagai pemasok input maupun sebagai pendorong  kemajuan teknologi; (6) investor asing masih cenderung pada orientasi pasar  domestik (inward oriented), dan sasaran usahanya sebagian besar masih pada  pasar yang diproteksi. [5]

Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) versi SBY-JK, daftar permasalahan struktur industri Indonesia makin panjang. Berikut adalah masalah struktural yang di hadapi industri manufaktur Indonesia.[6]

Pertama, masih sangat tingginya kandungan impor bahan baku, bahan antara, dan komponen untuk seluruh industri, yang berkisar antara 28-30 persen antara tahun 1993-2002. Inilah yang mungkin menjelaskan menapa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar tidak langsung menyebabkan kenaikkan ekspor secara signifikan.

Kedua, lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi karena industri kita masih banyak yang bertipe “tukang jahit” dan “tukang rakit”. Ini terlihat jelas dalamindustri tekstil dan produk tekstil serta industri elektronika. Pada hal kedua sektor merupakan industri yang padat karya. Meningkatnya upah minimum di berbagai daerah Indonesia menyebabkan Indonesia mulai kehilangan pijakan untuk industri bebasis buruh murah. Hengkangnya perusahaan asing ke Cina dan Vietnam makin sering diberitakan.

Ketiga, Masalah struktural berikutnya adalah rendahnya kualitas SDM, sebagaimana tercermin pada tingkat pendidikan tenaga kerja industri, sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja ndustri. Kemudian belum terintegrasinya UKM di Indonesia dalam satu mata rantai pertambahan nilai dengan industri sekala besar dan kurang sehatnya iklim persaingan karena banyak sebsektor industri yang beroperasi dalam kondisi mendekati monopoli, setidaknya oligopoly, menambah daftar masalah struktural yang dihadapi industri Indonesia.

Kekhawatiran para pelaku industri makin bertambah karena dibebani berbagai kenaikan tarif dan pajak. Kenaikkan harga BBM, tariff listrik, telepon, angkutan, dan harga bahan baku pada tahun 2002-2005 terbukti semakin ‘mencekik leher industri manufaktur. Kondisi lingkungan bisnis domistik cenderung mengakibatkan daya saing produk nasional semakin merosot.

TERBARU