Mekanisme Pengembangan Ideologi Pancasila

Mekanisme Pengembangan Ideologi Pancasila

Mekanisme Pengembangan Ideologi PancasilaMekanisme Pengembangan Ideologi Pancasila

Pengembangan atas nilai-nilai  dasar Pancasila menjadi nilai-nilai instrument atau operasional dalam Garis-aris Besar Haluan Negara bukan sesuatu yang baru. Formalnya dapat dikatakan sejak bangsa Indonesia berhasil mencanangkan pembangunan nasional di segala bidang meliputi bidang-bidang Ideologi,politik, Ekonomi,Sosial, Budaya dan Pertahanan Kemanan Nasional ( IPOLEKSOSBUD-HANKAMNAS) sebgaimana tertuang dalam Ketetapan-ketetapan Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) dianggap sebagai salah satu wujud pengembangan daripada nilai-nilai dasar Pancasila.

Pembangunan yang merupakan implementasi ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka,dalam pemikiran kenegaraan dapat diawali pada 3 (tiga) sumber materi penyusunan pembangunan, yaitu :

 

  1. Dilingkungan praktisi, terutama pada instansi lingkungan penyelenggara negara.
  2. Dilingkungan ilmuwan dan pengamat.
  3. Dilingkungan organisasi kemasyarakata.

Sehubungan dengan pentingnya aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi terbuka. Moerdiono memaparkan perbedaan ketiga macam nilai diatsa sebagai berikut :

Nilai Dasar

Ialah nilai yang bersifat abstrak, umum, tidak terikat dengan waktu dan tempat, dengan kandungan kebenarannya bagaikan satu aksiom

Dari segi kandungan nilainya, maka nilai dasar berkenaan dengan eksistensi sesuatu, yang mncakup cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri khasnya.

Nilai dasar ditetapkan oleh para pendiri negara, dan pada dasarnya nilai ini tidak akan berubah sepanjang zaman. Hal itu bias tercapai justru oleh karena sifatnya yang amat abstrak, yangterlepas dari pengaruh perubahan waktu atau tempat.

Pada dasarnya nilai dasar yang dianut bangs Idonesia adalah : Kebersamaan, persatuan dan kesatuan, baik dalam bidang IPOLSEK-SOS maupun HANKAM. Yang disebut dengan istilah lebih halus sebagai kekeluargaan, yang menolak faham individualism dan egoisme, baik egoisme perorangan maupun egoisme kelompok. Dari nilai dasar ii pulalah bersumbernya wawasan nasional kita tentang kerakyatan, keadilan sosial, bahkan wawasan nusantara.

Dihubungkan dengan system ketatanegaraan Indonesia, nilai dasar tercantum dalam hokum dasar tertulis, ysng meliputi : Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 1945. Di dalam dokumen tersebut terkandung kaidah-kaidah paling hakiki, cita-cita dan tujuannya, tatanan dasar dan juga ciri-ciri khasnya.

Nilai Instumental

Ialah penjabaran dari nlai dasar, yang merupakan arahan kinerjanya untuk waktu dan kondisi  tertentu. Sifat ini sudah lebih kontekstual, dapat dan bahkan harus disuakan dengan tuntunan zaman.

Dari segi nilai kandungan nilainya, maka nilai instrumental merupakan kebijakan, strategi, organisasi, sistem,rencana, program, bahkan juga proyek-proyek yang menindaklanjuti nilai dasar.

Nila instrumental terpengaruh oleh  perubahan  waktu, keadaan , atau tempat , sehingga secara berkala memerlukan penyesuaian. Nilai Instrumental merupakan kontekstual dar nilai dasar yang menjamin agar nilai dasar tersebut tetap relevan dengan masalah-masalah utama yang dihadapi masyarakat dalam zaman tersebut. Nilai ini dikembangkan oleh lembaga-lembaga penyelenggara negara yang dibentuk kemudian.

Nilai instrumental tercantum dalam selurh dokumen kenegaraan yang menindaklanjuti UUD dan belum termasuk kepada nilai praktis, seperti GBHN, UU dan peraturan pelaksanaannya.

Jika ditinjau dari segi lembaga yang berwenang menyusun nilai instrumental ini ada 3 (tiga) lembaga yang bertanggung jawab utuk itu, yakni MPR, Presiden dan DPR.

Ke dalam nilai instrumental juga dapat dimasukkan hukum dasar tidak tertulis, yang tumbuh dalam praktik penyelenggaraan negara.


Sumber: https://gurupendidikan.org/