Menristekdikti: Teknologi Nuklir dengan Maksud Damai Tak Perlu Ditakuti

Menristekdikti Teknologi Nuklir dengan Maksud Damai Tak Perlu Ditakuti

Menristekdikti: Teknologi Nuklir dengan Maksud Damai Tak Perlu Ditakuti

Menristekdikti Teknologi Nuklir dengan Maksud Damai Tak Perlu Ditakuti
Menristekdikti Teknologi Nuklir dengan Maksud Damai Tak Perlu Ditakuti

Jakarta-Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad

Nasir mengungkapkan saat ini masih banyak masyarakat dan perusahaan yang belum memahami tentang cara kerja dari peralatan yang menggunakan teknologi radiasi atau yang menggunakan tenaga nuklir untuk maksud damai, sehingga mereka (masyarakat awam) masih takut ketika mendengar kata-kata teknologi nuklir dan belum mengetahui manfaat dari teknologi nuklir untuk maksud damai tersebut.

“Banyak alat yang digunakan yang menggunakan teknologi radiasi, tapi

(masyarakat) tidak tahu betapa pentingnya teknologi nuklir untuk maksud damai tersebut. Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum teredukasi mengenai manfaat dan dampak dari teknologi radiasi ini. Contoh di rumah sakit, pada saat kita masuk di ruangan untuk rontgen, tidak pernah diberitahu secara detail. Terkadang hanya ada pengumuman bahwa hal tersebut berbahaya. Bahayanya seperti apa, tidak tahu,” ungkap Mohamad Nasir saat memberi arahan dan membuka Konferensi Informasi Pengawasan (Korinwas) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dengan tema “Penegakan Hukum dan Pemanfaatan Tenaga Nuklir” di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat pada Selasa (30/4/2019).

Menristekdikti Mohamad Nasir menjelaskan bahwa teknologi nuklir dengan maksud damai ini sudah mendapatkan izin dari BAPETEN tidak perlu ditakuti, karena teknologi nuklir dengan maksud damai, yang menghasilkan energi (tenaga) nuklir di Indonesia banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Di Puspiptek Serpong ada Iradiator Gamma, suatu alat berbasis teknologi nuklir

untuk maksud damai, yang digunakan untuk mengoptimalkan kualitas barang-barang konsumsi. Kalau kita punya makanan, dan tidak mendapatkan treatment dengan teknologi iradiasi, itu dapat bertahan berapa lama….? Atau tingkat basinya berapa jam? Paling empat jam sampai enam jam makanan tersebut sudah basi jika dibiarkan. Tapi dengan menggunakan teknologi iradiasi untuk pengawetan makanan, makanan tersebut bisa bertahan dua tahun tanpa perlu tambahan bahan kimia. Makanan ini hanya diradiasi (menggunakan teknologi radiasi) saja dan dijamin aman. Sebenarnya, teknologi iradiasi ini adalah salah satu contoh teknologi masa depan.. Jadi kalau penerapan teknologi ini bisa dilakukan di kawasan industri makanan, kita tidak perlu tambahan bahan kimia,, karena hal ini sangat membanggakan Bangsa Indonesia, waktu itu kita menamainya dengan “*Iradiator Gamma Merah Putih*, saat diresmikan oleh Wakil Presiden RI,” ungkap Menteri Nasir.

Selain memiliki tugas mengawasi penggunaan tenaga nuklir, Menteri Nasir menyampaikan BAPETEN memiliki tugas mulia dalam mencerdaskan rakyat Indonesia terkait peralatan yang menggunakan tenaga nuklir, agar masyarakat turut memperhatikan keselamatan mereka saat mengoperasikan maupun saat menerima manfaat dari teknologi nuklir tersebut.

 

Sumber :

https://study.mdanderson.org/eportfolios/125/Home/Seed_plants_Spermatophyta_Definition_Example_Image_Type_Characteristics_Classification