Objek Hukum

Objek Hukum

Objek Hukum

Objek Hukum

Objek hukum adalah

segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum  dan yang dapat menjadi objek suatu hubungan hukum karena hal itu dapat dikuasai oleh subjek hukum.

Dalam bahasa hukum, objek hukum dapat juga disebut hak atau benda yang dapat dikuasai dan/atau dimiliki subyek hukum. Misalnya, Andi meminjamkan buku kepada Budi. Di sini, yang menjadi objek hukum dalam hubungan hukum antara Andi dan Budi adalah buku. Buku menjadi objek hukum dari hak yang dimiliki Andi.

Yang dimaksud dengan objek hukum atau Mahkum Bih ialah sesuatu yang dikehendaki oleh pembuat hukum untuk dilakukan atau ditinggalkan oleh manusia; atau dibiarkan oleh pembuat hukum untuk dilakukan atau tidak. Dalam istilah ulama ushul fiqh, yang disebut Mahkum Bih atau objek hukum yaitu sesuatu yang berlaku padanya hukum syara’. Objek hukumnya adalah “perbuatan” itu sendiri.

Jenis Objek Hukum berdasarkan pasal 503-504 KUH Perdata, disebutkan “Bahwa benda dapat dibagi menjadi 2, yakni benda yang bersifat kebendaan (Materiekegoderen) dan benda yang bersifat tidak kebendaan (Immateriekogoderan). Berikut ini adalah penjelasannya :

  1. Benda yang bersifat kebendaan (Materiekegoderen) ialah suatu benda yang sifatnya dapat dilihat, diraba dan dirasakan dengan panca indera yang terdiri dari benda berubah/ berwujud. Yang meliputi :
  2. Benda bergerak/ tidak tetap, yang berupa benda yang dapat dihabiskan dan benda yang tidak dapat dihabiskan, karena :
  3. Sifatnya dapat bergerak sendiri, seperti hewan (ayam, kerbau, kuda, ayam, kambing, dan sebagainya);
  4. Dapat dipindahkan, seperti kursi, meja, sepatu, buku, dan sebagainya;
  5. Benda bergerak karena penetapan atau ketentuan undang-undang, yaitu hak atas pakai atas tanah dan rumah, hak sero, hak bunga yang dijanjikan, dan sabagainya.
  6. Benda tidak bergerak, yaitu setiap benda yang tidak dapat bergerak sendiri atau tidak dapat dipindahkan, karena :
  7. Sifatnya yang tidak bergerak, seperti gunung, kebun, dan apa yang didirikan di atas tanah, termasuk apa yang terkandung di dalamnya;
  8. Menurut tujuannya, setiap benda yang dihubungkan dengan benda yang karena sifatnya tidak bergerak, seperti westafel di kamar mandi, tegel (ubin), alat percetakan yang ditempatkan di gudang, dan sebagainya;
  9. Penetapan undang-undang, yaitu hak atas benda tidak bergerak dan kapal yang tonasenya/beratnya 20 .
  10. Benda yang bersifat tidak kebendaan (Immateriekogoderan) ialah suatu benda yang dirasakan oleh panca indera saja (tidak dapat dilihat) dan kemanusiaan dapat direalisasikan menjadi suatu kenyataan. Misalnya merk perusahaan, paten dan ciptaan musik/ lagu.

Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/