Pengamat: Siswa Indonesia Sulit Berkolaborasi

Pengamat Siswa Indonesia Sulit Berkolaborasi

Pengamat: Siswa Indonesia Sulit Berkolaborasi

 

Pengamat Siswa Indonesia Sulit Berkolaborasi
Pengamat Siswa Indonesia Sulit Berkolaborasi

 

Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, pada era Revolusi Industri ini, kemampuan yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) adalah sumber daya manusia (SDM) yang memiliki nalar yang tinggi. Artinya, SDM yang dibutuhkan adalah yang bisa berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis, dan kreatif.

Menurut Indra, saat ini, anak-anak Indonesia masih memiliki kesulitan untuk berkolaborasi. Mereka sulit bekerja sama dalam satu tim. Oleh karena itu, menurutnya, harus ada perubahan kurikulum dan pelatihan pada guru agar mereka dapat menerapkan cara berkolaborasi yang baik kepada peserta didik.

“Dalam meningkatkan SDM pada lulusan SMK, perlu adanya perubahan pola pelatihan seperti yang kami dilakukan pada guru SMK saat ini. Jadi kami mau ubah pola pelatihan yang ada selama ini. Kalau biasanya dibuatnya singkat, kami mau buatnya panjang artinya bisa seminggu penuh. Tapi setelah itu akan ada pertemuan daring sampai Oktober untuk meningkatkan kreativitas guru,” kata Indra pada pembukaan pelatihan digital yang bertajuk “Revitalisasi Simulasi dan Komunikasi Digital Menyongsong Revolusi Industri 4.0”, hasil kerja sama Direktorat Pembinaan SMK dengan Eduspec PTE Ltd dan PT Charisma Multimedia Education di Binus Square Hall of Residence, Senin (29/7)

Selanjutnya, Indra menyebutkan, kelemahan lainnya adalah kreativitas anak-anak Indonesia yang tidak muncul. Contohnya saat disuruh menggambar pemandangan, hasilnya sama semua. “Yang di pikiran mereka pemandangan itu adalah gunung dua,” ujarnya.

Sulitnya kolaborasi juga menjadi salah satu kendala pemerintah memperkuat

ekonomi digital. Semisalnya, saat ini Indonesia masih kekurangan programmer. Padahal programmer sangat dibutuhkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

“Dua minggu yang lalu saya ke Kein (Komite Ekonomi dan Industri, red) ternyata kita itu kekurangan programmer. Kita mau jadi pemain serius di ekonomi digital tapi kekurangan programmer. Padahal kan banyak sarjana komputer. Anak SMK yang lulusan TIK juga semakin banyak. Namun, kenapa kita kekurangan dan menggunakan tenaga India dan Tiongkok?” terangnya.

Pemanfaatan Digital

Sementara itu, Kepala Seksi Evaluasi Direktorat Pembinaan SMK Kemdikbud, Arfah

Laidiah Razik mengatakan, pelatihan guru ini merupakan satu program persiapan SDM SMK. Lanjut dia, pada pelatihan guru kali ini, Kemdikbud membuka pelatihan bagi guru SMK non-jurusan Teknik Infromatika dan Komunikasi (TIK).

Ada pun tujuannya adalah agar para guru non-TIK memahami bagaimana pemanfaatan digital dalam dunia pendidikan, khususnya kejuruan, agar dapat menjawab tantangan dari dunia industri. Sebab, yang dibutuhkan tidak hanya tenaga kerja terampil dan profesional, tetapi juga yang mampu berinovasi.

“Program ini akan diselenggarakan selama sepekan. Pelatihan guru SMK ini

merupakan bagian dari program revitalisasi pembelajaran vokasi yang ada saat ini. Tahun 2016, telah ada Inpres Nomor 9 Tahun 2016 di mana revitalisasi SMK ditekankan pada kualitas SDM ” kata Arfah.

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/bedhaya-ketawang-dan-bedhaya-semang/