Peran Soekardjo Wirjopranoto terhadap Bangsa Indonesia

Soekardjo Wirjopranoto

Peran Penting Soekardjo Wirjopranoto

Soekardjo Wirjopranoto lahir pada 5 Juni 1903 di Cilacap. Dia adalah tokoh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang dikenal cerdas dan berani menentang penjajahan Belanda.

Tidak banyak informasi tentang pendidikan yang pernah diambilnya. Namun, sering ditinjau oleh berbagai sumber bahwa ia lulus dari sekolah hukum di Hindia Belanda pada tahun 1923.

Dengan sahabatnya, Dr. Soetomo, Soekardjo Wirjopranoto mendirikan organisasi gerakan nasional Indonesia atau disingkat PBI. Organisasi ini menjadi pendahulu dari Indonesian Studies Club (ISC). Karier politiknya meningkat ketika ia berhasil menjadi anggota Volksraade People’s Council pada tahun 1931.

Sejak 1936, ia masuk dan berpartisipasi dalam pertemuan PARINDRA (Partai Indonesia Raya) dengan MH. Thamrin, Sam Ratulangie, Edward Douwes Dekker. PARINDRA dikenal sebagai partai terbesar pada waktu itu, dituduh memiliki hubungan dekat dengan partai Nazi di Jerman dan Jepang. Akibatnya, tiga teman ditangkap (tidak termasuk dirinya sendiri) dan tahanan rumah pada tahun 1941.

Salah satu korban adalah MH Thamrin, yang, setelah ditangkap dalam tahanan rumah, tidak bertahan lama untuk napas terakhirnya. Rumor yang beredar bahwa ia ditembak oleh pemerintah Belanda. Pemakamannya dihadirkan oleh anggota PARINDRA, termasuk Soekardjo Wirjopranoto.

Seperti yang dilaporkan majalah Tempo, yang menarik tentang pemakaman itu adalah prosesi di mana semua anggota PARINDRA yang berpartisipasi memberi hormat pada gaya “Heil Hitler” dan mengaitkannya dengan pasukan Nazi. Tetapi apakah ini menunjukkan jika Thamrin menyembah Nazi? penelitian tambahan masih diperlukan.

Soekardjo Wirjopranoto

Kiprah Soekardjo Wirjopranoto selama Pendudukan Jepang.

Beberapa peran penting Soekarjo Wirjopranoto selama pendudukan Jepang adalah sebagai berikut:

  • Pemimpin Pers Terbesar di Asia
  • Anggota Komite Pelatihan Pendidikan Rakyat dan Komite Konsultasi (PUTERA).
  • Bagian dari komite tradisional dan sebelumnya di Tatanegara (organisasi penelitian
  • tradisional Jawa dan organisasi masyarakat dari Jepang)
  • Anggota BPUPKI (Komite Persiapan Pelatihan Kemerdekaan Indonesia)

Melalui surat kabar Asia, ia mencoba membuat penduduk asli sadar akan kondisi tertindas yang disebabkan oleh diskriminasi dan kolonialisme Belanda.

Pada 15 Juli 1945, tepat di pertemuan BPUPKI, terjadi perdebatan antara kaum nasionalis dan Muslim. Menurut H. Masjkur (mewakili Islam), menurut Pasal 9, yang menyatakan bahwa “presiden bersumpah dengan agamanya,” ia menyimpulkan bahwa Presiden Republik Indonesia tidak boleh menjadi seorang Muslim, sedangkan ajaran pertama di Piagam di Jakarta mengatakan: “Negara bergantung pada Esa Yang Mahakuasa dengan keawjiba memimpin Syari’at Islam untuk penganutnya,” sehingga akan sulit untuk mewujudkan prinsip Piagam unik di Jakarta jika Presiden Republik Indonesia tidak seorang muslim. Lebih lanjut, H. Masjkur telah merekomendasikan amandemen segera pada Pasal 9.

Peran Soekardjo Wirjopranoto di awal kemerdekaan

Menurut Lutfi Widagdo Eddyono, peran dan peran Soekardjo Wirjopranoto berturut-turut adalah sebagai berikut:

  • Mendirikan Mimbar Indonesia.
  • Melayani sebagai duta besar Indonesia untuk Vatikan,
  • Duta Besar Luar Biasa untuk Italia,
  • Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh di Republik Rakyat Tiongkok.
  • Perwakilan Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1962.

Dia meninggal di New York pada 23 Oktober 1962. Tubuhnya dimakamkan di Pemakaman Pahlawan Calibata di Jakarta. Untuk menghormati semua kontribusi yang diberikan selama hidupnya, Soekardjo Wirjopranoto dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia no. 342 tahun 1962, nama itu disucikan sebagai nama jalan di Jakarta Pusat.

Baca Juga :