Tanpa Standardisasi, Pedagang Tentukan Harga Mobil Hybrid Bekas Cenderung Sepihak

Terbatasnya referensi dan acuan harga unit mobil hybrid di Indonesia, menciptakan pedagang memungut untung dengan menilai harga secara sepihak. Situasi ini ingin merugikan empunya kendaraan, lantaran penentuan harga menjadi tidak jelas.

Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, Herjanto Kosasih mengatakan, tidak sedikit pemilik mobil hybird yang datang memasarkan kendaraannya, dan mengeluh lantaran penentuan harga yang tidak jelas, tidak terdapat standarisasi.

“Biasanya pedagang melulu menilai patokan berdasar situasi mobil, bertolak belakang dengan kemudahan purna jual kepunyaan agen pemegang brand yang standarnya jelas,” ujar Herjanto.

Menurutnya, hal utama yang menjadi acuan untuk pedagang saat memungut unit mobil hybrid dari konsumen, ialah kondisi baterai. Pedagang bakal menghindari mobil dengan situasi baterai mendekati masa kadaluarsa, sebab ongkos penggantiannya masih tinggi.

Akan tetapi, bila empunya mobil mempunyai bukti baterai tersebut telah diganti baru, dapat jadi saudagar akan menawarkan harga tinggi. “Karena penggantiannya masih terbatas dan mahal, lagipula kalau stok unit baterai tidak terdapat di pihak pemegang merek,” ujar Herjanto menjelaskan.

Biasanya konsumen menerima harga bentukan saudagar terhadap unit mobil hybrid, sebab tidak mempunyai pilihan tempat memasarkan kendaraan tersebut. Berbeda dengan penjaja mobil bekas yang memilki nama besar, yang seringkali memberi peluang konsumen ikut bernegosiasi menyusun harga.

Faktor beda yang menjadi daftar Herjanto ialah kesulitan saudagar melepas mobilnya secara cepat. Durasi mobil itu berada di tangan saudagar sebelum mendapat empunya baru, dapat mencapai dua sampai tiga bulan. Periode tersebut tergolong lebih lama dikomparasikan rata-rata penjualan kendaraan bermesin konvensional ketika ini. Sumber : https://www.scoop.it/topic/narisa-purnama/p/4118446132/2020/05/14/easy-tips-to-buy-a-used-car