Tidak Ada Pungli Di SMPN 7 Saparua Timur Jelang UN

Tidak Ada Pungli Di SMPN 7 Saparua Timur Jelang UN

Tidak Ada Pungli Di SMPN 7 Saparua Timur Jelang UN

Tidak Ada Pungli Di SMPN 7 Saparua Timur Jelang UN
Tidak Ada Pungli Di SMPN 7 Saparua Timur Jelang UN

Kepala SMP Negeri 7 Kecamatan Saparua Timur Ny. Sartje Fransina Sopacua, S.Pd membantah bahwa dirinya tidak pernah melakukan pungutan liar (pungli), sebesar Rp. 100 ribu per bulan per siswa selama tiga bulan untuk kegiatan les tambahan bagi 70 siswa peserta Ujian Nasional (UN).

Bantahan Sopacua ini sekaligus mengklarifikasi pemberitaan pada salah satu media Online dengan judul Stop Pungli Di SMPN 7 Saparua tertanggal 22 Maret 2017 kemarin.

Kepada media ini di Masohi Sabtu (25/3/2017) Sopacua menjelaskan, ada sumbangan dari orang tua siswa peserta UN yang ditagih oleh komite sekolah guna membantu guru mata pelajaran yang memberikan les tambahan dan latihan pemantapan menjelang UN dan bukan permintaan dari pihak sekolah.

Bulan Januari 2017 lalu ada rapat orang tua murid peserta UN bersama pihak

sekolah dan komite sekolah, dengan agenda membahas hal-hal penting terkait perubahan paradigma menjelang pelaksanaan UN.

“Soal pengumpulan uang tersebut adalah persetujuan antara orang tua murid peserta UN bersama pihak komite sekolah dan tidak melibatkan pihak sekolah, sehingga ada pemberitaan bahwa terjadi pungli di SMPN 7 Saparua Timur itu tidak benar,”ucapnya.

Sudah dan surat dari Kepala UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Saparua Timur untuk tidak melakukan suatu pungutan apapun dari orang tua/wali murid.

Ketua Komite SMPN 7 Saparua Timur Yacobis Sapulette saat dikonfirmasi melalui

telepon selulernya membenarkan, tagihan uang tersebut sejak bulan Januari
sampai Maret 2017 sebesar Rp 100 ribu per bulan per siswa, dan itu merupakan kesepakatan bersama pihak komite dan orang tua murid peserta UN dan tidak melibatkan pihak sekolah.

Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional pihak sekolah melakukan rapat bersama dengan orang tua murid dan komite sekolah guna menyampaikan hal-hal menyangkut pelaksanaan ujian.

Selesai rapat, komite sekolah bersama orang tua murid membicarakan kesiapan

guru mata pelajaran melakukan les tambahan kepada 70 siswa peserta UN.

“Ada kesepakatan dari orang tua untuk mengumpulkan Rp. 100 ribu per siswa per bulan guna membantu guru mata pelajaran selama tiga bulan, karena tenaga dan pikiran mereka disumbangkan kepada siswa peserta UN di luar jam pelajaran,”ucapnya.(TM08)

 

Sumber :

https://lakonlokal.id/cara-shalat-jenazah/